Di bawah
naungan awan kelabu di tanah Malang.
Tak terasa bukan? sudah 19 tahun sudah ku jalani hidupku.
Meniti langkah demi langkah penuh dinamika yang tak mudah untuk diungkapkan.
Mencari jawaban demi jawaban di setiap gelisah yang hadir.
Mencari menemukan siapa dan apa sebenarnya mauku.
Mengalunkan kata demi kata yang masih banyak menggores luka.
Hati yang sempat terabaikan oleh peliknya masa.
Sikap yang masih sering menoreh sesal.
Betapa kufurnya diriku jika tak menyadari nikmat yang Allah berikan kepadaku.
Mempertemukanku, mengenalkanku, dengan mereka yang sungguh luar biasa.
Mereka yang telah mewarnai kehidupanku.
Keluarga, guru, teman, dan mereka yang tak bergelar namun penuh arti.
"Fa aina tadzhabuun??" yah, itulah yang harusnya kembali ku tanyakan pada diriku setelah 19 tahun ku pijaki bumi Allah.
Jazakillah Bu Aimmah Sholihah..
Tak terasa bukan? sudah 19 tahun sudah ku jalani hidupku.
Meniti langkah demi langkah penuh dinamika yang tak mudah untuk diungkapkan.
Mencari jawaban demi jawaban di setiap gelisah yang hadir.
Mencari menemukan siapa dan apa sebenarnya mauku.
Mengalunkan kata demi kata yang masih banyak menggores luka.
Hati yang sempat terabaikan oleh peliknya masa.
Sikap yang masih sering menoreh sesal.
Betapa kufurnya diriku jika tak menyadari nikmat yang Allah berikan kepadaku.
Mempertemukanku, mengenalkanku, dengan mereka yang sungguh luar biasa.
Mereka yang telah mewarnai kehidupanku.
Keluarga, guru, teman, dan mereka yang tak bergelar namun penuh arti.
"Fa aina tadzhabuun??" yah, itulah yang harusnya kembali ku tanyakan pada diriku setelah 19 tahun ku pijaki bumi Allah.
Jazakillah Bu Aimmah Sholihah..
Teruntuk
kalian, keluarga, guru, teman, dan mereka yang tak bergelar namun penuh arti.
Jazakumullah atas semua nasihat, do'a dan atas semua yang telah kalian berikan
kepada saya اﺧﻴﺐ ارﻣﺎواﺗﻲ.
Forgive me for all my mistakes.
Jazaakumullah Khoiron Jazaa..
Forgive me for all my mistakes.
Jazaakumullah Khoiron Jazaa..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar