Sabtu, 17 Agustus 2019

Lupa Bersyukur :’(

Doc. 22 Maret 2018
Langit FMIPA UM

Sabtu, 17 Agustus 2019
Malang masih dingin di pertengahan tahun. Dirgahayu Republik Indonesia. 74 tahun sudah, sejak Ir. Soekarno beserta orang-orang di sekelilingnya pada masa itu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari kolonial.

Bangun tidur tadi, setelah menyadarkan diri, ga sengaja lihat postingannya Pucukmera.id di beranda IG tentang Soekarno, Hatta dan Kita oleh Rezza Deviansyah.
Lagi-lagi, seketika serasa mau bilang, “Ah iya aku !! Sudaa buat apa kamu sampai sejauh ini ?? Ngapain aja kamu selama ini ??” pejamin mata, nafas panjang, menghempaskan segenap rasa.
“Orang ga peduli impian kamu yang hanya sekedar angan.”
“Indonesia juga ga butuh omongan melangitmu.”
Sontak, “Aku juga ga butuh itu semua.”

Buktikan dong !!
Bukti atas semua mimpi yang sempat tertulis. Bukti sebagai tanda kamu sedang berupaya.
Sudah jangan banyak bicara. Buktikan saja dulu, kalau kamu memang sungguh-sungguh ngejalani hidup ini. (Aku)

Dingin masih membersamai Subuh tadi. Isi kepala seolah ikut membeku, mematung. Seusai salam, terdengar suara yang kembali berucap salam. Lalu, berlanjut menyampaikan pesan-Nya Surah Ibrahim ayat 7.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya adzab-Ku sangat berat.”

Dalam diam dan tertunduk, aku mencoba meresapi kata demi kata yang disampaikan.

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
“Bukankah kalimat itu disampaikan oleh-Nya berkali kali dalam Surah Ar Rohman?”
“Sekecil apapun nikmat-Nya, kita harus mensyukurinya.”
“Semisal, bangun dari tidur, jangan lupa bersyukur. Kalau tidak hafal doanya, bisa mengucap Alhamdulilaahirobbil’aalamiin.”

Sesedarhana itu konsepnya, s e b e n a r n y a.

Aku semakin tertunduk dalam. Iyaa. Mungkin selama ini aku lupa bersyukur. Pelajaran tentang rasa Syukur, tidak cukup hanya sebatas memahami makna dan contohnya di bangku sekolah dulu. Terbukti sampai sekarang pun aku masih sering sekali lupa untuk bersyukur. Atas setiap jengkal nikmat yang Allah beri. Satu saja nikmat-Nya dicabut, mungkin aku sudah kalang kabut.

Belajarlah kembali untuk bersyukur Chib, dari hal terkecil saja. Agar tak lagi ngerasa berat ngejalani hidup ini dengan sungguh sungguh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Harus Sholat Dhuha?

  KUNCI ISTIQOMAH Beberapa waktu terakhir, berkali-kali buat list to do untuk sholat dhuha. Tapi beberapa kali, juga terlewat waktunya. Se...