Minggu, 18 Agustus 2019

Awalnya, Aku Sering Ragu-Ragu

Doc. 16 Mei 2019
Semalam di SweesBell.
Menulis memang caraku menuangkan rasa dan asa. Tapi nyatanya tidak semudah itu menuliskan setiap kata yang bisa mewakili titah hati dan akal. Beberapa kali bertemu kawan yang mencoba menulis, lalu mereka terhenti karena dihimpit keraguan dan kekhawatiran terhadap tulisannya sendiri. Takut jelek. Takut ngerasa alay. Takut menggurui. Takut gaada yang baca. Takut kaburo maktan (Astaghfirullah.. Kami berlindung dari sifat ini Ya Allah..).

Maka percayalah. Masing-masing tentu punya alasan atas apa yang ingin ditulisnya. Kalaupun ditemui ketidaksesuaian terhadap dirinya dan apa yang ditulisnya, jangan segan untuk menyampaikan. Lalu hadir sebagai seorang teman yang menjadi nasihat. Iyaaa. Karena kita hanya manusia. Masing-masing sedang berupaya untuk melakukan yang terbaik di sisa usia.

Surat cinta dari-Nya dalam Mushaf Al Qur’an yang ke 103 seringkali menampar diri.
“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta mereka yang saling menasehati untuk menetapi kebenaran dan menetapi kesabaran.”

Percayalah, kita tidak bisa berdiri sendiri tanpa nasihat dan saling menasihati.
Kita tidak bisa berjalan sendiri di dunia ini. Aku juga. Aku butuh kalian, kita, agar bisa saling melengkapi.

Back to topic.

Awalnya aku juga sering ragu setiap mau nulis. Apalagi semakin ke sini, aku sadar. Aku termasuk orang yang suka detail. Walhasil, banyak pertimbangan untuk sampai sebuah tulisan yang akan meluncur terbit ke publik, karena dilindu ketakutan, keraguan, dan kekhawatiran terhadap apa yang ku tulis.

Lalu, aku sadar. Bahwa waktu hanya berjalan sekali. Yang lalu tidak akan menghampiri kembali. Maka, tulis saja dulu. Untuk apa? Untuk merawat dan menjaga ingatan. Agar cerita dan kisah kita mampu melampaui masa dan usia. Beruntung jika ada yang bisa menikmatinya atau mengambil hikmah dari apa yang kita tulis lalu dibaca. 

Tulis saja dulu. Sebisa mungkin. Sebaik mungkin. Selama sempat itu ada. Selebihnya, tentang ketakutan dan kekhawatiran, kita urus nanti. Sambil berjalan, sambil terus berbenah.

Aku juga masih belajar.

Terimakasii sudaa membaca sampai di sini :)

#nulisyuk #belajarmenulis #nulisyukbatch37

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Harus Sholat Dhuha?

  KUNCI ISTIQOMAH Beberapa waktu terakhir, berkali-kali buat list to do untuk sholat dhuha. Tapi beberapa kali, juga terlewat waktunya. Se...