![]() |
| Senja - Pan Java Cafe |
Siang sampai sore tadi dikumpulkan lagi sama
mereka. Orang-orang yang tiada henti mencoba dan berusaha. Aku lebih banyak
mendengar. Tentang mereka yang seperti sedang meraba-raba kemana arah nahkoda.
Hingga bertukar ide, pendapat, canda, tawa yang cukup segar.
Ada pesan dari cerita yang diselipkan di awal
perbincangan oleh Bapak Ketua. Cukup ngena. Mungkin kalian pernah mendengarnya.
Begini ceritanya (mungkin sedikit berbeda, tapi insyaAllah intinya tidak jauh
berbeda).
Guru bertanya pada muridnya, “Jika ada dua mangga
dan dua mangga, berapa jumlah mangga?” Murid menjawab, “lima bu.” Beberapa kali
sang guru bertanya dengan pertanyaan yang sama, tapi murid tetap menjawab
dengan jawaban yang sama, “lima”. Hingga Sang guru berpikir, mungkin murid ini
tidak suka mangga. Akhirnya sang guru mencoba mengganti soalnya menjadi
strawbery. “Jika ada dua strawbery dan dua strawbery, berapa jumlah strawbery?”
Murid menjawab, “Empat bu.” Guru merespon, “Itu kamu bisa, lalu kenapa tadi
dua mangga dan dua mangga, jumlahnya lima?” Sang murid menjawab, “Kalau ibu
bertanya jumlah mangga, maka jumlahnya memang lima bu, karena satunya ada di
dalam tas saya.”
Nah lho, apa yang kalian pikirkan tentang cerita ini? Hehe.
Iyaa. Sebelum ini, Bapak ketua bilang bahwa misskomunikasi seringkali menjadi
salah satu faktor masalah utama dalam organisasi atau suatu kepanitiaan. Dari
cerita tadi, kita diajak belajar tentang menghargai pendapat atau persepsi orang lain. Jika
ada yang berbeda pendapat atau sudut pandang, alangkah baiknya tabayyun dulu.
Sehingga tidak mudah menyimpulkan, “Oh ini salah.”, “Dia nggak seharusnya
begitu.” dan ungkapan lainnya yang mungkin bisa menyinggung. Hingga merasa paling benar. Dan kita seperti
tenggelam dalam prasangka yang tidak-tidak. Padahal belum tentu demikian adanya.
Mempelajari teorinya memang mudah sekali. Tapi dalam
praktiknya, kadang kita seringkali terperdaya dan lupa. Bahwa ada hak orang
lain untuk didengar, dihargai dan dihormati pendapat atau keputusannya.
Persepsi orang barangkali memang berbeda-beda. Jangan mudah menyimpulkan. Tabayyunlah (berkata di depan cermin). Persepsi yang tidak disampaikan dengan baik kadang mudah menimbulkan prasangka.
Persepsi orang barangkali memang berbeda-beda. Jangan mudah menyimpulkan. Tabayyunlah (berkata di depan cermin). Persepsi yang tidak disampaikan dengan baik kadang mudah menimbulkan prasangka.
Tentang prasangka, sadar atau tidak, hal ini memang
seringkali hinggap meski tanpa diundang. Dalam surat cinta-Nya, Allah berpesan
kepada Orang yang mengaku percaya kepada-Nya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ
بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka
(kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah
seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al Hujurat ayat 12)
(QS. Al Hujurat ayat 12)
Na’uudzubillaahimindzaalik
yaa Allah..
Lindungilah kami dari keburukan yang demikian :’)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar