Kamis, 19 September 2019

Tangisku Pecah - Hayya The Movie (Part 2)


Iyaa.. Memang ada yang berbeda dengan nonton ku malam itu. Mbak Fitri saja bilang, “kok gaono sing ngadek?” padahal lampu sudah dinyalakan. Tapi film belum benar-benar selesai.

Di akhir film, seperti biasa, ditayangkan nama-nama yang berpartisipasi, mulai dari direktur, produser, hingga sponsor (kalau tidak salah, hehe). Tapi ku rasa bukan itu yang membuat kita semua seolah sepakat untuk tidak beranjak dulu, meskipun lampu bioskopnya sudah dinyalakan. I mean, hal itu karena cuplikan di akhir film tentang keadaan orang-orang Palestina yang tidur di lapangan beralasan kain. Anak-anak Palestina dengan wajah lugunya, tapi harus mendapati kenyataan yang pahit, anak-anak yang menyimpan harapan besar di balik porak poranda negerinya.

Tangisku pecah melihatnya, pecah karena ternyata anak-anak Palestina tidak bisa diadopsi. Betapa berarti, mereka memang akan terlahir untuk menyaksikan peristiwa yang mencekam, lalu berjuang memperjuangkan yang harus diperjuangkan. Tak peduli usia mereka berapa.

*****

Iyyaa. Aku belum melihat solusi untuk Hayya di film ini. Masalah Hayya belum terjawab. Bagaimana nasib Hayya kemudian? Juga nasib anak-anak Palestina di pengungsian? :" Barangkali hal itulah yang membuatku terdiam dan seketika terlintas dalam benak, "Loh, sudah? Filmnya hanya ini?".

*****

Di cuplikan itu, bergantian mereka (Anak-anak Palestina) bilang, “Syukron”, “Syukron”, Syukron”,... “Terimakasih sudah mendoakan dan memberi dukungan kepada kami di Palestina”. Semakin pecahlah air mataku. Teringat beberapa tahun silam. Saat ada instruksi dari PP IPM (kalau tidak salah) untuk melakukan penggalangan dana kemanusiaan Palestina.
Aku masih ingat betul, saat itu kebagian di daerah Pasar. Ada bapak bapak yang nyeletuk bilang, “Halaah Mbaak. Lapo kok reopt repot nggalang dana digawe Palestina. Wong ndek cedek-cedek kene sek akeh sing butuh bantuan pisan.” Ucapnya sambil tertawa pelan. Aku hanya tersenyum, lalu terdiam. Mengeluarkan nafas panjang beberapa kali, untuk menghilangkan rasa gelisah. Iyaa. Tidak salah, bapak itu bilang demikian, tapi aku juga tidak hendak membenarkan seluruhnya.

Sepanjang perjalanan dari penggalangan dana itu, pikiranku dipenuhi oleh ucapan bapak itu. Pada akhirnya aku sadar, ada nasihat yang ingin disampaikan, dan aku akhirnya merasa tertampar. Memikirkan saudara kita yang jauh di Palestina sana, bukan berarti abai dengan saudara kita di sekeliling yang juga butuh bantuan.

Hmmm.. Iyaa. Akhirnya tangisku pecah, justru ketika film itu selesai. Ketika melihat cuplikan keadaan kawan-kawan Palestina. Lalu teringat dengan cerita beberapa tahun silam. Lalu mengingat kondisiku saat ini yang nyatanya seringkali lupa untuk bersyukur.

Chib.
Barangkali stimulus aksara sudah tidak mempan lagi. Maka ku biarkan hati yang meraba dan menguatkanmu sendiri, tanpa harus meluapkan dan menegaskannya dengan aksara.

Bismillah..
Do’a kami juga untuk Palestina :’’.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Harus Sholat Dhuha?

  KUNCI ISTIQOMAH Beberapa waktu terakhir, berkali-kali buat list to do untuk sholat dhuha. Tapi beberapa kali, juga terlewat waktunya. Se...