Iyaa..
Memang ada yang berbeda dengan nonton ku malam itu. Mbak Fitri saja bilang, “kok
gaono sing ngadek?” padahal lampu sudah dinyalakan. Tapi film belum
benar-benar selesai.
Di
akhir film, seperti biasa, ditayangkan nama-nama yang berpartisipasi, mulai
dari direktur, produser, hingga sponsor (kalau tidak salah, hehe). Tapi ku rasa
bukan itu yang membuat kita semua seolah sepakat untuk tidak beranjak dulu,
meskipun lampu bioskopnya sudah dinyalakan. I mean, hal itu karena cuplikan di
akhir film tentang keadaan orang-orang Palestina yang tidur di lapangan
beralasan kain. Anak-anak Palestina dengan wajah lugunya, tapi harus mendapati
kenyataan yang pahit, anak-anak yang menyimpan harapan besar di balik porak
poranda negerinya.
Tangisku
pecah melihatnya, pecah karena ternyata anak-anak Palestina tidak bisa
diadopsi. Betapa berarti, mereka memang akan terlahir untuk menyaksikan
peristiwa yang mencekam, lalu berjuang memperjuangkan yang harus diperjuangkan.
Tak peduli usia mereka berapa.
Iyyaa. Aku belum melihat solusi untuk Hayya di film ini. Masalah Hayya belum terjawab. Bagaimana nasib Hayya kemudian? Juga nasib anak-anak Palestina di pengungsian? :" Barangkali hal itulah yang membuatku terdiam dan seketika terlintas dalam benak, "Loh, sudah? Filmnya hanya ini?".
*****
Iyyaa. Aku belum melihat solusi untuk Hayya di film ini. Masalah Hayya belum terjawab. Bagaimana nasib Hayya kemudian? Juga nasib anak-anak Palestina di pengungsian? :" Barangkali hal itulah yang membuatku terdiam dan seketika terlintas dalam benak, "Loh, sudah? Filmnya hanya ini?".
*****
Di
cuplikan itu, bergantian mereka (Anak-anak Palestina) bilang, “Syukron”, “Syukron”,
Syukron”,... “Terimakasih sudah mendoakan dan memberi dukungan kepada kami di Palestina”.
Semakin pecahlah air mataku. Teringat beberapa tahun silam. Saat ada instruksi
dari PP IPM (kalau tidak salah) untuk melakukan penggalangan dana kemanusiaan
Palestina.
Aku
masih ingat betul, saat itu kebagian di daerah Pasar. Ada bapak bapak yang
nyeletuk bilang, “Halaah Mbaak. Lapo kok reopt repot nggalang dana digawe
Palestina. Wong ndek cedek-cedek kene sek akeh sing butuh bantuan pisan.” Ucapnya
sambil tertawa pelan. Aku hanya tersenyum, lalu terdiam. Mengeluarkan nafas
panjang beberapa kali, untuk menghilangkan rasa gelisah. Iyaa. Tidak salah,
bapak itu bilang demikian, tapi aku juga tidak hendak membenarkan seluruhnya.
Sepanjang
perjalanan dari penggalangan dana itu, pikiranku dipenuhi oleh ucapan bapak
itu. Pada akhirnya aku sadar, ada nasihat yang ingin disampaikan, dan aku
akhirnya merasa tertampar. Memikirkan saudara kita yang jauh di Palestina sana,
bukan berarti abai dengan saudara kita di sekeliling yang juga butuh bantuan.
Hmmm..
Iyaa. Akhirnya tangisku pecah, justru ketika film itu selesai. Ketika melihat
cuplikan keadaan kawan-kawan Palestina. Lalu teringat dengan cerita beberapa
tahun silam. Lalu mengingat kondisiku saat ini yang nyatanya seringkali lupa
untuk bersyukur.
Chib.
Barangkali
stimulus aksara sudah tidak mempan lagi. Maka ku biarkan hati yang meraba dan
menguatkanmu sendiri, tanpa harus meluapkan dan menegaskannya dengan aksara.
Bismillah..
Do’a kami juga untuk Palestina :’’.
Do’a kami juga untuk Palestina :’’.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar