Kamis, 19 September 2019

Mengejar 20.55 - Hayya The Movie (Part 1)


Baiklah.. aku harus mulai darimana?
19 September 2019.
Barangkali kalian juga sepakat kalau ini adalah tanggal cantik (19-9-19).
Tanggal ini mengingatkanku pada film Hayya (The Power of Love 2) yang mulai tayang di bioskop. Sudah cukup lama dinanti. Bergegas ku install Tix,id. Langsung lihat jadwal tayangnya di daerah Malang. Saat itu aku ngecek jadwalnya sore, hari Kamis (19-9-19) tersisa dua jadwal, pukul 18.45 wib dan pukul 20.55 wib. Dan itu hanya di Mandala. Seketika langsung terlintas postingan Mba Oki dan rekan-rekannya beberapa waktu yang lalu, “jaga Hayya di bioskop ke sayangan Anda”. Iyaa.. film berbau religi seperti ini memang peminatnya tidak begitu banyak. Tapi percayalah, bukan berarti film seperti itu hanya kaleng-kaleng. Tanpa berpikir dua kali, ku hubungi Mba Fitri dan Zaahin buat cari teman liat Hayya. Sempat tawar menawar sedikit, akhirnya deal kita berangkat. Tersisa 35 menit.an sebelum film dimulai. Bergegas kita mengejar 20.55.

 Hayya-The Movie
Film ini menceritakan tentang sosok anak kecil perempuan, korban peperangan di Palestina yang diselamatkan oleh relawan jurnalis yang meliput di sana. Rahmat dan Adin. Kabarnya, semua keluarganya tidak ada yang selamat. Hayya sebatang kara. Tampak wajah keberatan di mata Hayya ketika Rahmat hendak pamit untuk kembali ke Jakarta. Hayya enggan, dia merajuk. Sampai tiba di hari perpulangan, Rahmat tidak menjumpai Hayya. Barangkali Hayya masih merajuk atau kecewa, demikian pikir Rahmat yang ku tangkap.

Sesampai di Jakarta, pikiran Rahmat tidak bisa terlepas dengan kenangannya bersama Hayya. Sampai didapati kenyataan, ternyata Hayya ada bersamanya. Menyelinap di koper Rahmat, sepanjang perjalanan.

Ini yang baru ku tahu dari film ini, bahwa ternyata anak-anak korban Palestina tidak boleh diadopsi. (Kenapa? Ada yang tahu?). Tetap membiarkan Hayya tinggal bersama Rahmat, tentu adalah pelanggaran yang akan melibatkan masalah dengan dua negara. Indonesia dan Palestina. Adin sudah mengingatkan itu, Hingga akhirnya keduanya sepakat untuk melaporkannya ke pihak yang berwenang.
Namun, rencana itu diurungkan oleh Rahmat setelah mendengar tangis Hayya yang pecah ketika melihat berita pengeboman Palestina di TV. Adin mengelak, kenapa tidak lapor saja? Biar tidak tambah rumit nantinya. Rahmat menjawab bahwa Hayya juga butuh tempat yang aman dan nyaman, sama seperti kita “manusia dewasa”. Hayya sudah sebatang kara. Mengembalikan Hayya ke kampung halamannya juga bukan sebuah jaminan akan membuat Hayya bahagia. Hayya masih punya trauma yang tinggi.

Memang menjadi sebuah pilihan yang tidak mudah. Melaporkan penyelinapan Hayya, sehingga dia bisa kembali ke kampung halamannya dan Rahmat juga bisa terbebas dari tuntutan kedua negara. Tapi secara kemanusiaan, rasanya tidak tega melihat kondisi Hayya dan kampung halamannya yang mencekam oleh suara bom, tembak, apalagi dengan trauma yang tragis.

Singkat cerita, akhirnya kabar Hayya yang tinggal bersama Rahmat dan Adin diketahui oleh pihak berwenang. Awalnya Rahmat tetap menolak untuk memulangkan Hayya. Hingga orang sekelilingnya meyakinkan, bahwa apa yang dilakukan Rahmat terhadap Hayya justru sebenarnya bukan semata-mata karena cinta. Tapi itu adalah obsesi untuk berbuat kebaikan sampai abai dengan orang-orang tercinta di sekelilingnya.

Emmm.. gimana ya. Lihat sendiri deh. Maaf belum bisa ngasi review yang cukup baik. Hehe.

Jadi..
Awalnya, aku agak kurang terima dengan endingnya. Karena pertanyaanku tentang kenapa? Belum terjawab. Iya, kenapa korban Palestina tidak boleh diadopsi? Hehe.

Lalu..
Ada yang berbeda dengan nonton ku malam itu, jika biasanya seusai ceritanya selesai. Penonton pada bubar pas lampu mulai dinyalakan. Malam itu, para penonton masih duduk terpaku seolah sepakat untuk tidak beranjak dulu sampai film benar-benar selesai.
Saat itulah tangisku justru pecah.

(Bersambung di 'Tangisku Pecah-Hayya The Movie (Part2)')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenapa Harus Sholat Dhuha?

  KUNCI ISTIQOMAH Beberapa waktu terakhir, berkali-kali buat list to do untuk sholat dhuha. Tapi beberapa kali, juga terlewat waktunya. Se...